Senin, 26 Januari 2009
PATAH HATI.....(pernah)
“Assalmww. Mb, ahad bsk sy nikah,mhn doa rstu ya...insya allah sykrn dt4 sya Kamis...dmhon kdtangnnya....Wasslmww”
Kuulangi sekali lagi membaca sms itu, memang itu bunyi smsnya....Ya Rabb....memang aku tak salah baca... . Aku menarik nafas berat, rasa sesak aku rasakan dalam dada ini, rasanya jantung ini berhenti memompa darah, darah berhenti mengalir....Allah....apa yang aku rasakan...?
Aku mengenal lelaki ini bukan hanya hitungan jam atau hari, tapi aku mengenalnya bertahun – tahun lalu, ketika kami masih sama – sama duduk di tahun kedua, perkuliahan kami. Hingga kini kami sama – sama telah bekerja. Ia berbeda jurusan denganku, namun bukan itu penghalang untuk lebih mengenalnya, ia seorang lelaki yang santun, pintar, dan pasti sholeh....itu menurutku...hehehe....
Perlahan kuraih lagi handphone yang sempat aku lempar keatas kasur, ku forward sms itu pada Inayah, sahabat baikku, yang juga sahabatnya...
“Iffah,... aku ikut kamu, kalo kamu datang aku juga datang....kalo tidak aku juga tidak..”suara Inayah terdengar mantap, aku terhenyak. Sampi sebegitunya ia mendukungku? Bahkan ia rela tak mendatangi undangan hanya karena setia kawan..?
“Aku sahabatmu, aku paham perasaanmu.”lanjutnya. Memang diantara kami berlima, aku, Inayah, Maria, Ihsan dan Fendi, aku dan Inayahlah yang paling dekat. Hampir seperti saudara, dan hanya Inayah yang tahu apa yang aku rasakan terhadap Fendi, lelaki pengirim sms itu.
Hari ini Fendi menikah, ah...aku tak ingin memikirkannya, tapi sungguh aku juga tak kuasa, ketika tiba – tiba ia masuk dalam otakku. Allah, bantu aku melupakannya..desisku. kulihat jam di dinding, delapan kurang seperempat. Segera kuambil wudhu, kucoba melupakan bayang – bayang lelaki itu, aku dhuha...
Dalam sujud kupinta dengan sangat, agar aku mampu melupaknnya. Allah..dia bukan untukku, Engkau telah tunjukkan padaku, tapi Ya Allah...berat rasanya hati ini melupannya. Ia masih bertahta di ruang hati ini. Ia masih ada di ruang hati ini. Mudahkanlah aku melupakannya Ya Rabb....
Besok syukuran ditempat Fendi, Inayah menanyakan lagi kesediaanku, kini ia duduk tepat dihadapanku, menggenggam tanganku erat, aku merasakan ia tengah berusah memberi aku kekuatan. Aku mengeleng, aku masih belum siap kesana hari ini,”Insya Allah ahad ya...”ucapku lirih. Inayah memandangku.
“Sebelum ia memutuskan menikah dengan orang lain, ia sahabat kita, jahat sekali kalo kita tak menghadiri undangannya.” Lanjutku, Inayah tersenyum.
“Bukankah kalo kita diundang, kita wajib hadir...?”lanjutku mencoba tersenyum. Inayah merengkuhku, ia memelukku erat..”Aku bangga padamu, ukhti.”bisiknya....Allah...kuatkan aku.
Jam setengah sembilan, Inayah sudah menungguku di teras rumah. Setelah pamit pada ayah- ibu, kamipun berangkat. Dalam perjalanan aku masih terus berusaha keras menata hati, berusaha keras mempersiapkan mental.
Setengah jam perjalanan, rasanya terlalu cepat bagiku yang belum siap bertemu dengannya, orang yang pernah singgah di hatiku. Perlahan namun pasti, sepeda motor memasuki halaman, dan aku makin berusaha kuat mempersiapkan mental, makin berusaha keras manata hati. Allah,...bantulah aku.....
“Sebenarnya ibu lebih senang kalau Fendi berjodoh dengan Inayah atau Iffah.”tiba – tiba ibu Fendi berkata, ketika hampir 5 menit kami terdiam, aku terhenyak, tapi kucoba menekan perasaaan ini.
“Ah, jodoh kan ditangan Allah, Bu.” Inayah mencoba menetralisir perasaanku. Aku tersenyum, mengerti maksudnya, ah Inayah, kau memang sahabt terbaikku. “Iya Bu, jodoh Allah yang mengatur.”sambungku.
“Fendi bilang ia tak sepadan dengan Iffah, karena..”kalimat wanita itu tertahan
“Karena apa, Bu...?”desakku ingin tahu. Inayah menyepak kakiku perlahan.
Wanita itu menghela nafas perlahan, “Bapak Iffah orang terpandang, pebisnis sukses, sedangkan kami...” belum lagi kalimat itu selesai terucap aku memotong,”Tapi Iffah kan tak pernah memebeda – bedakan...”kurasakan panas menjalar pada paha kananku. Inayah mencubit pahaku keras sekali. Aku terdiam. Kucoba tersenyum walau jujur aku akui perih sekali rasanya hati ini, jadi ia memilih wanita itu karena...karena, ah sudahlah.
Akhirnya kamipun minta diri, hampir tiga jam kami menunggu Fendi tapi rupanya nasib belum berpihak pada kami untuk bertemu dengannya. Dalam hati diam – diam aku bersyukur pada-Nya, karena jujur saja aku belum benar – benar siap menemuinya. Andai ia bukan kawan dekatku dari semester dua, aku enggan datang ke rumahnya hanya untuk mengucapkan barrakallaahu lak....sementara jauh dalam lubuk hatiku aku menangis, menangisi nasib dan ketololanku.
Hari berganti, bulan berlalu, kini setahun sudah sejak peristiwa itu, nama Fendi sudah hilang dari ingatanku, hampir...masih ada dariku, dikii..t hehehe....akupun sudah menjalani kembali hari – hariku, menyibukkan diri dengan seabreg kehiatan. Aku memang berusaha keras melupakan peristiwa itu, peristiwa yang mebuatku berduka sekaligus tertawa, berduka karena aku jatuh cinta dan bertepuk sebelah tangn. Tertawa, karena sebelum aku sempat mengungkapkan perasaanku, lelaki itu telah meninggalkanku....
Gubraks..”Aduh..”desisku...
“Maaf..”lelaki itu meminta maaf, “Saya yang salah...’lanjutnya, ada nada sesal yang tersirat. Allah...suara itu..aku pernah mendengarnya, suara itu...perlahan kupandang lelaki didepanku itu dan deg...jantungku seakan berhenti berdegup lagi, aliran darahku mampat lagi....Fendi....benarkah ini..?
Allah rencana apa lagi ini ?
Bertemu dengannya setelah sekian lama, setelah usaha keras selama ini, setelah perjuangan yang aku lakukan. Rabb.....apalagi rencana-MU...?
Namanya Fathimah, tutur katanya lembut dan halus, ada aroma kebijaksanaan tiap kali ia merangkai kata. Wajahnya teduh, sorot matanya tajam. Berkenalan dan mengobrol dengannya membuatku lupa bahwa ia adalah wanita yang menikah dengan Fendi, wanita yang sebenarnya menjadi rivalku, tapi sungguh...aku tak merasakan ia sebagai seorang musuh. Jujur dalam hati yang paling dalam, aku justru merasa sudah kenal dekat dengan wanita di depanku ini.
“Perkiraan lahirnya kapan...?”aku bertanya sambil mengusap perutnya, dari sudut mataku, sempat kutangkap lirikan mata Fendi. Aku tak perduli, yang aku rasakan sekarang adalah aku punya seorang sahabat yang sebentar lagi akan memberi aku seorang keponakan.
“Insya Allah pertengahan bulan depan.”jawabnya sambil tersenyum, akupun tersenyum.
“Jangan lupa kabari Iffah ya..”pintaku. Ia mengangguk.”Iffah permisi dulu...”lanjutku. “Hari ini jadwal aku privat.”lanjutku paham dengan tatap matanya.
Fathimah memelukku erat, kurasakan hangat dan penuh kasih, bagai seorang ibu yang memeluk anaknya. Tiba – tiba ada rasa lain yang aku rasakan, kebencian itu hilang, sirna entah kemana.
Kutinggalkan mereka berdua, aku berjalan menyususri lorong rumah sakit, ayun kakiku ringan seringan rasa yang kini aku rasakan, lelah hatiku selama ini hilang. Allah...Yaa Rabb...Yaa Rahmaan...Yaa rahiim...terima kasih Yaa Tuhan...aku paham sekarang, semua kejadian yang Engkau rangkai kupahami sekarang, baru hari ini aku mengerti...ternyata aku bukanlah yang terbaik untuk Fendi, aku bukanlah wanita yang tepat untuknya, dan yang pasti ia bukan lelaki yang tepat untukku, karena ia adalah lelaki yang tepat untuk Fathimah....hehehe..
Cerita ini fiktif tapi berdasar kisah nyata, inti cerita ini adalah :
Semua telah diatur oleh Allah, rizqi, jodoh, mati semua telah di tata lengkap dengan detilnya, airmata yang trcurah karena kehilangan sesuatu yang kita cintai tak pernah ada artinya kalau kita tak mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian.
Kadang Allah menghilangkan sebentar matahari, memeberikan kita awan gelap, kemudian mendatangkan petir dan guntur...hujan pun datang...puas kita menangis mencari dimana matahari kitapun tersadar rupanya Allah ingin menghadiahi kita PELANGI






Tidak ada komentar:
Posting Komentar