assalamualaikum

Sabtu, 03 Januari 2009

My First Motorcycle.....

Dulu ketika q masih duduk di bangku SMA, ayah membelikanku sebuah sepeda motor YAMAHA keluaran tahun 1987. Bahagia dan senang aku rasakan, apalagi dulu ayah pernah berkata hanya akan memberi sepeda motor jika kami sudah duduk di perguruan tinggi, tetapi karena satu dan lain hal akhirnya keputusan itu berubah, dan sepeda motor q dapatkan ketika SMA.

Meski motorku termasuk “kuno” he he he...(maklum.........waktu itu yang negtrend sepeda motor 4 tak) sedangkan motorku asli masih 2 tak, tapi aku slalu menucap syukur karena dengan motor itu aku jadi lebih mudah bila disuruh – suruh eyang dan yang pasti lebih ada sarana untuk wira-wiri.

Hingga aku masuk universitas, sepeda motor itu masih setia menemaniku. Aku tetepa merasa bersyukur, karena masih banyak teman kuliahku yang masih harus berdesak – desakan di bus kota untuk berangkat ke kampus, atau berpagi – pagi hari berangkat dengan jalan kaki. Jadi, aku masih....”Alhamdulillah...Yaa Allah....”

Suaranya yang khas dan asap kenalpotnya membuat teman – teman mudah menebak kedatanganku, sering aku merasa risih ketika melewati arena yang ramai, karena rasanya semua mata tak berkedip memandangku (bukan karena super cuantik atau apa, tapi karena motor yang full musik..he he he..). Tapi bukan aya kalo ga cuex bex bex...(cuek abiss) he he he...kan lebih baik punya motor ramai and full musik dari pada ga punya motor he he he....
Namun diantara kebahagiaanku masih ada hal yanag aku rasakan, meski cuma satu hal. Sepeda motorku itu tak mau berkompromi pada jalan tanjakan, padahal kondisi kampusku berbukit – bukit. Sering aku terpaksa harus menuntunnya untuk sampai ke atas atau full gas 5-10 meter sebelum tanjakan (bayangkan....he he he..). temen – temen sering tersenyum hingga tertawa melihatku, tak jarang kelakar mereka meramaikan pergaulan kami, “Wadhuh...baru kali ini ada motor naik pengendara.” Tak jarang kelakar senada juga aku dengar lewat bisik – bisik tersembunyi alias takut ngomong langsung sama aku... he he he..

Biasanya aku hanya tersenyum atau sesekali kujawab,” Ssstt.....jangan keras – keras, tar motorku tersinggung, trus nggak mau nganter aku ngampus lagi berabe....bisa kurus aku jalan kaki ngampus..” sambil berlalu, biasanya tawa langsung meledak dan aku jadi makin tenar ( he he he....sok merasa tenar). Tak jarang dosen yang tanpa sengaja dengar percakapan kami jadi senyum simpul.

Bahkan sampai tukang parkir pun mengolokku, “ Masak si anak dosen kok motornya nggak up to date lagi..?” ujarnya sambil senyum – senyum nyebelin.
“Justru itu asyiknya...”sahutku
“Kok asyik... maksudnya...?”
“ Saya ga usah pusing mikir maling motor, mana ada maling yang mau nyuri motor bensin campur gini....”jawabku sekenanya.
“Campur dorong, Mbak...?”
“ He he he....lha iya , Pak.” Jawabku sambil senyam – senyum keki. Wuih....Ya Allah...aku tetep bersyukur pada-Mu, motor ini berarti banget buatku.

Bulan berjalan, tahun berganti. Hingga 2005 aku lulus dan berhak menyandang gelar sarjana, aku bekerja pun masih dengan motor itu, soalnya emang belum beli yang baru, jadi masih tetep campur dorong he he he...Sering sambil bercanda aku meminta untk dibelikan yang baru, tapi jawabnya tetep sama, “Sabar....yanga da dipake dolo, belum ada uang.” He he he...maklum lah cuma anak guru....musti ngerti kondisi....

Hingga September 2006, tiba – tiba terjadi kegemparan di rumahku. Ibu mendadak saja sibuk mencari buku tabungan ayah, yang padahal ayah sendiri malah lupa kalau pernah menabung di bank yang ibu maksud (aneh kan...?) karena kata ibu, ayah dapat supra fit dari bank yang menerbitkan buku tabungan itu, dan hadiah bisa diambil kalau bisa menunjukkan buku tabungannya. Saking puyengnya ibu mencari, apalagi ayah bilang kalau lupa pernah menabung di bank itu, dan kebetulan beliau tengah keluar kota. Akhirnya ibu membuat suatu sayembara, barangsiapa yang berhasil menemukan buku tabungan ayah, maka supra fit itu jadi hak nya untuk menggunakan.

Kuanggap sayembara itu hanya akal – akalan ibu agar dibantu mencari buku tabungan ayah. Akupun membantu mencari, bukan karena ingin motor itu (meski sempat berharap...) tapi lebih karena kasihan melihat ibu repot mencari buku tabungan yang entah dimana berada. Lumayan lama kami mencari, hingga akhirnya alhamdulillah buku itu kutemukan. Ketika kubaca pemilik rekeningnya memang benar atas nama ayah dan subhanallah......saldo terakhir hanya Rp. 13. 125,00 (bayangkan...). bukan hanya terpana dan bingung, berjuta pertanyaan meramaikan otak di kepalaku. Bagaimana mungkin, saldo sekecil itu mendapat supra fit...???????

Akhirnya setelah urusan selesai, akupun berhak menggunakan motor “hadiah” itu. Hanya butuh 2 minggu dan Rp. 1. 759. 000, 00 sepeda motor baru itu berubah menjadi atas nama ayahku, meski surat – suratnya atas nama ayah(karena nggak bisa dibalik nama), namun karena janji ibu dulu akulah yang berhak menggunakannya, sehingga 100% bea operasional aku yang menanggungnya.

Tak henti aku bersyukur selalu kepada Allah, karena karunia-NYA itu. Sebulan setelah mendapat Supra fit, aku mendapat panggilan atasa lamaran yang pernah aku buat, Alhamdulillah lagi...Syukurku tak henti hanya pada Allah semata. Bayangkan, dalam waktu yang berdekatan aku mendapat 2 kenikmatan, sepeda motor yang lama ku inginkan dan pekerjaan. Fabiayyi aalaaai robbikumaa tukadzibaan....Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan.....???????

Alhamdulillah, terima kasih Yaa Allah.....Kau berikan sebuah sekenario indah dan sempurna untukku. Kau berikan segala yang aku butuhkan, buakn segala yang aku inginkan. Karena tempat kerjaku yang baru memang kondisi geografisnya bebukit – bukit, makannya Alah memberi aku supra fit...he he he...

Allahumma aa’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika.....Ya Allah ingatkan lah aku untuk selalu ingat kepada-MU dan selalu bersyukur kepada-MU, dan selalu lebih baik dalam beribadah kepada-MU..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Doa Seorang Kekasih