Kamis, 17 September 2009
Apakah....???
Kulirik jam yang terpampang di dinding sebelah kananku, hampir pukul 1 siang, antrean bank blum juga beranjak, rasanya lamaaaaa......banget....(he3...mulai g sabar..), padahal aku masih harus mampir ke beberapa tempat lagi untuk memenuhi kebutuhan konterku menjelang lebaran. ( maklum pedagang pulsa kecil ini ingin lebih berarti ).
Masih 6 orang yang berdiri didepanku, bapak dengan wajah tirus dan keliatan mengantuk, seorang ibu dengan hp yang tak berhenti berbunyi, entah telepon dan sms dari siapa saja yang harus ia terima, seorang laki – laki berjaket hitam dengan tas ransel, seorang remaja dengan dandanan anak muda zaman sekarang, celana ketat dan agak melorot, dan biasa disebut medel – medel, seorang bapak berkacamata minus, berkulit kuning dan rambut hitam, tampak rapi seperti layaknya eksekutif muda masa kini, bergaya teramat metroseksual, dan tepat di depanku, seorang lelaki berjaket hitam bertuliskan nama sebuah perusahaan. Dan aku berdiri tepat di belakangnya. Sementara dibelakangku masih banyak orang yang berdiri menagantre, maklum besok memang hari terakhir bank siap melayani para nasabah, karena sebentar lagi memang idul fithri menjelang.
Di depan teller nomer dua, seorang ibu berdiri dan tampak serius mendengarkan penjelasan dari sang teller, entah masalah apa yang terjadi, tapi tampak sang ibu manggut – manggut tanda mengerti dengan penjelasan sang teller. Si ibu yang sepertinya berasal dari kalangan berada itu tampak cantik dan anggun dengan jilbab biru tua senada dengan bawahan yang ia kenakan, dengan jam tangan merk terkenal melingkar pas di pergelangan tangan kirinya, dan cincin emas melingkar manis di jari manisnya, kelima jarinya memegang erat hp Nokia keluaran terbaru, sedangkan tangan kanannya sibuk menuliskan sesuatu di kertas, hm...sepertinya bukti transaksi yang harus dibenahi, aku menghela nafas pelan, mencoba menyusun segenap kemampuan untuk lebih bersabar lagi.
Hampir lima menit ibu di depan teller nomer dua itu berdiri. Teller – teller yang lain sudah beberapa kali berganti nasabah, sedangkan teller nomer dua itu masih bertahan melayani si ibu berjilbab biru itu sepertinya masih lama urusannya. Sabaa...rrrrrr. tinggal seorang nasabah yang tersisa di depanku.
Tiba – tiba seorang gadis yang kutaksir usianya tak jauh dariku atau mungkin sama (he3...sotoy banget) berjalan mendekati si ibu cantik, lalu tanpa perduli sekitar ia berdiri di samping sang ibu, sepertinya memang itu anak perempuan sang ibu, karena sempat kudengar si gadis memanggilnya “mama”. Melihat garis wajahnya memang ada kemiripan dengan sang ibu, apalagi gadis ini juga berkulit putih bersih, dan tentu saja memegang hp yang juga nokia seri terbaru. Baju kotak – kotak coklat model baby doll tanpa lengan yang “maaf” sedikit memperlihatkan bagian dalam bawah ketiak, dan celana jins pensil warna coklat membuat aku sedikit bingung. Bagaimana tidak..??? Si ibu yang berpakaian serba tertutup, dan si anak yang ingin memperlihatkan kemoleakan tubuhnya. Sungguh sebuah pemandangan yang kontras dari segi berpakaian.
Pikiranku mengembara dengan pemandangan di depanku.
Apakah sang anak tidak merasa isih dengan caranya berpakaian..??
Apakah sang anak tidak ingin terlihat cantik dan anggun dalam balutan busana muslim dan jilbab seperti sang ibu..??
Atau...memang seperti inilah model berpakaian gadis masa kini..??
Apakah sang ibu tak pernah menasehati anak gadisnya itu, tentang bagaimana seharusnya berpakaian..???
Apakah sang ibu tak pernah memahamkan kepada anak gadisnya itu, tentang bagian mana saja yang tidak boleh tampak..??
Apakah sang ayah juga tak menasehati sang putri, bahwa kehormatan itu harus selalu terjaga...??
Apakah sang ibu tidak takut ya, jika suatu saat nanti Allah bertanya tentang tanggung jawabnya mendidik putra – putrinya...??
Apakah sang ibu tidak takut ya, jika ada nanti Allah bertanya tentang perannanya sebagai madrasatul ula bagi putra - putrinya...??
Apakah sang ayah tidak bergidik ngeri ya, jika nanti di akherat Allah meminta pertanggung jawabannya dalam “quu anfusakum wa ahlikum naaran”...??
Aku masih ingin mengembara lagi bersama segala pertanyaan di kepalaku ini, tapi sayang..teller satu mempersilahkanku untuk ia layani....
~Suatu siang di antrean MANDIRI~






Tidak ada komentar:
Posting Komentar